Gitty

My mother told me I had a chameleon soul, no moral compass pointing due north, no fixed personality; just an inner indecisiveness that was as wide and as wavering as the ocean.

Batas Masa

Sore ini, aku bertemu seorang wanita. Lupa, sudah berapa kali kami bertemu. Sudut kota menjadi saksi tawa, saat kami bercengkrama saat itu. Angin sore menjamah kami dengan mesra, seraya lantunan musik mengalir bersahaja. Sampailah kami di suatu titik, dimana otak beradu dengan hati.
“Kok kayaknya aku udah.. apa ya ini namanya.. waktu kau udah merasa cukup dengan semua konflik yang ngga berarah dan memuak-“
“Batas masa, git” Potongnya.
“Bukannya capek, ya?” Tanyaku.
“Capek itu waktu kau udah terpaksa berhenti melakukan sesuatu” jelasnya.
“Batas masa emang gimana? Aku bertanya lagi.
“Ya gitu. Waktu kau udah merasa cukup dengan sesuatu yang harusnya nggak perlu kau laukukan lagi.” Jawabnya dengan asap mengepul dari bibirnya.
Hening. Aku melihat wanita itu sekali lagi. Mencerna kata demi kata yang baru saja ia ucapkan. Sedikit saja, tapi kenapa.. kenapa wanita ini begitu…

Andai saja dia tahu, sukmanya begitu indah.