Beberapa jam yang lalu, aku menemui seorang sahabat. Bertamu ke rumahnya, sekadar untuk membunuh waktu. Seperti yang sudah-sudah, kami duduk diteras rumahnya dengan secangkir air putih untuk berdua. Berbicara sekenanya. Kadang tertawa, lalu diam. Tidak ada yang spesial malam ini. Tidak ada perlu yang dirayakan, tidak juga ada hal penting yang harus kami bahas. Tapi malam itu dia bertanya, soal biasa di tengah percakapan yang juga biasa
"Jujurlah, kau merindukannya kan?"
Aku diam. Kutatap matanya lalu mengalihkan pembicaraan.

Menit terus berlalu hingga kukatakan sudah waktunya aku harus pulang. Aku berpamitan pada ibunya, kakak penjaga rumahnya, dengan membawa beberapa potong martabak yang ibunya beli untuk bisa kucicipi juga. Kuhidupkan mesin mobil, meninggalkan rumah sahabatku itu, lalu menyetir. Menatap lurus ke jalanan dengan tenang. Ketika tiba-tiba sebuah lagu terputar. Aku seperti ditampar. Kusadari tatapanku mulai samar, pelupuk mataku mulai berat, pipiku sudah basah.

Aku menangis.

Lagu itu membawa kembali ingatan tentang dia. Dia yang tadi disebut oleh sahabatku. Kurasakan alur berputar kembali ke masa lalu. Saat kali pertama kami bertemu. Ketika itu rokku masih abu-abu dan dia masih menggunakan sepasang kawat gigi. Lalu, ingatanku beranjak sedikit lebih maju ketika dia berusaha membantuku dalam ujian di akhir masa putih abu-abuku. Kemudian maju sedikit lagi ketika ternyata kami bertemu di kampus yang sama. Pertemanan itu terjalin lagi ditempat bebebeda, waktu yang berbeda, namun masih terasa sama.

Masih kuingat kala dia bertamu kerumahku berjam-jam hanya untuk bercerita, berdebat ini dan itu. Masih dengan pakaian yang ia pakai kuliah pagi harinya. Sesekali diputarnya lagu dari ponselnya ketika kami mulai bungkam. Kebiasaannya yang paling kuingat adalah setiap ia harus ke kamar kecil sesaat sebelum meninggalkan rumahku
lalu pulang atau pergi entah kemana. Sore yang kadang ia habiskan di jalan hanya untuk menemaniku menjemput adikku dari tempat les.

Dia. Dengan gelak tawanya yang cempreng, tatapan garangnya ketika memarahiku layaknya ayah memarahi putrinya, senyum sinisnya ketika menyindir, caranya membujukku ketika aku marah, mengacak-acak rambutku seakan-akan aku ini masih kecil. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Ternyata. Dari setiap waktu yang kami habiskan berdua, ada waktu yang mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan. Ketika suatu senja ia memintaku menemaninya makan roti isi di pinggir jalan. Berdua saja disinari lampu mobil dan motor yang lalu lalang, lalu terucap begitu saja hal yang tak kuduga - duga.
"Ingat ya, tidak akan ada yang berubah dari persahabatan kita. Dengan ada atau tidak adanya orang lain yang datang ke hidup kita. Awas saja. Jangan coba-coba menjauh karena aku sudah memiliki status! Janji ya?” katanya dengan gaya sok mengancam. Aku tertawa seketika. Tapi ada yang berbisik di dalam sana.

Ada lagi. Ketika suatu sore dirumahku, aku bertanya kepadanya
"Apa kita bisa ya begini terus sampai selesai kuliah?"
Lalu..
"Kita pasti tetap seperti ini sampai tamat" jawabnya.
Begitulah dia. Selalu berhasil menenangkan. Di dekatnya aku merasa aman, tanpa ingin tahu kebenaran di masa depan.

Dia. Yang dua hari lagi bertambah umurnya. Dia. Yang ternyata masih tidak bisa hilang dari ingatan.

Cengeng memang, tapi benar aku merindukannya.

Aku tak bisa tidur sejak Juni sampai beranjak hingga ke Juli. Terlalu sibuk bertanya dan mengeluhkan hidup. Merasa-rasakan pahit di air tawar setiap minum. Mendesah pedas berkali-kali di makanan yang ibuku masak. Terus-menerus hingga sampai pada suatu waktu malam bertamu di sudut kamar kecilku ini. Dalam sesah mereka berbagi kisah. Aku yang lelah bukan mengantuk. Mata sayu hendak menyimak, telinga juga turut mendengar. Dari sekian banyak malam menjamu, kali ini aku sudah terlelap. Senyap. Mereka yang tak kunjung lenyap. Sepertinya, mereka bukan sekadar pendongeng pengantar tidur.

Aku tak bisa tidur sejak Juni sampai beranjak hingga ke Juli. Terlalu sibuk bertanya dan mengeluhkan hidup. Merasa-rasakan pahit di air tawar setiap minum. Mendesah pedas berkali-kali di makanan yang ibuku masak. Terus-menerus hingga sampai pada suatu waktu malam bertamu di sudut kamar kecilku ini. Dalam sesah mereka berbagi kisah. Aku yang lelah bukan mengantuk. Mata sayu hendak menyimak, telinga juga turut mendengar. Dari sekian banyak malam menjamu, kali ini aku sudah terlelap. Senyap. Mereka yang tak kunjung lenyap. Sepertinya, mereka bukan sekadar pendongeng pengantar tidur.

happinesstraveler:

June,30…

Ketika cinta yang tulus datang dari masing-masing peran.

Mereka,
Bukan yang menghabiskan waktu ku untuk mendengarkan cerita cinta klise. Namun memghabiskan seluruh air mata untuk memperdengarkan ku apa itu cinta.
Cinta pada hidup.
Cinta pada keluarga.
Cinta pada alam.
Cinta pada Tuhan.
Cinta pada suatu kekurangan.
Cinta pada keterbatasan.
Cinta pada seorang sahabat.

Mereka bukan orang yang mengajari ku bagaimana mencintai seorang pasangan sebagaimana layaknya teman.
Namun mengajarkanku untuk mencintai teman sebagaimana sebuah pasangan.

Mereka yang ku jaga,yang diam-diam menjaga ku dari belakang.
Yang tanpa berinteraksi,namun satu dari mereka setidaknya menyebutkan nama mereka dalam setiap waktu ku,terlihat seperti aku tak punya waktu untuk melupakan nama mereka satu persatu.

Yang dapat tertawa dengan hal yang tak perlu untuk ditertawakan,segalanya terasa indah ketika dalam hati satu persatu merasa terlengkapi…

Mak,Nyet,Key,Yin,Eyin,Akak,Ker,Ey,Kak Key.
Begitulah sederet nama ku yang mereka sebutkan dengan semua perbedaan,yang tanpa mereka sadari,aku terlalu nyaman dengan segala perbedaan panggilan yang terlontar dari mulut mereka,yang berarti memaknai ku dengan cara mereka masing2.

Dengan seribu masalah berbeda,namun diselesaikan dalam satu pelukan. Yang menemani ku hingga pergantian hari.
Begitupun dengan waktu yang merubah wujud mereka,membuat ku mengerti bahwa waktu sudah terlalu lama kami lewati.hingga wujud dan rupa kami kian berunah dan sebuah pandangan. Tapi tidak pada suatu kesetiaan.

Dari jauh aku menyadari bahwa aku merindukan perempuan-perempuan yang duduk di lantai rumahku,kian kursi tetap tertengger.dengan asap dan kepulan dari mulut kami,yang bercerita bahwa hidup akan seperti apa,ada pula lelaki yang bertengger disebuah sofa empuk,sibuk dengan gadgetnya,di pojokkan lain ada kumpulan pria,yang duduk dan bersandar dengan play station sibuk dengan euphoria permainan video games, ada pula lelaki yang duduk berpindah di dua sisi,yang sebentar hanya berpindah tempat hanya untuk mencium rambutku,padahal kami hanya berjarak jengkalan tangan.

Ada pula malam yang terlalu banyak kami lihat bintang,atau sekedar berdiam menikmati angin. Atau bercerita panjang.

Kalian,adalah kecintaanku,aku akan mencari apa yang kucintai,menjaganya agar tetap utuh. Air mata yang selalu ada saat satu persatu melambaikan tangannya atas kepergian aku melangkah ketempat yang jauh dari mereka,merenggut seluruh waktu jelas untuk ku menghabiskan waktu.

Ayahku,ibuku,dan saudaraku bahkan merasa mereka adalah bagian dari rumah itu. Sudah biasa mereka terganggu tidur dengan gurau tawa mereka. Yang menghabiskan makanan kala ibu ku membeli,yang menganggap hal indah kala melihat mereka makan dengan lahap di kursi makan yang ayah ibuku beli.
Yang diam walaupun tanamannya rusak karena ulah mereka,tersenyum karna mereka semua seperti bagian dari rumah yang ibu dan ayahku bangun.

Kala kepergian pertama ku,membuat air mata ibuku tumpah,kala mereka ikut bersama melipatkan tangan untuk berdoa,di rumah yang mereka habiskan waktu,bahkan ibuku tak menyangka,sehebat itu rasa kecintaan mereka pada satu sama lain.

Yang diam-diam bercerita kenakalan mereka pada saudara2 ku.

Pagi terang,pagi hujan,pagi badai,siang gelap,siang cahaya,siang mendung,malam indah,malam gemuruh,malam diam.

Sudah kami lewati.

Aku ingin kalian duduk bersamaku,dimeja panjang dan lebar di malam nanti. Yang akan kuhabiskan seluruh air mataku untuk kalian di tahun mendatang. Malam yang kuimpikan,malam yang membuatku merasa bangga pada diriku karena punya kalian.
Malam yang aku akan katakan bahwa setengah dari perjalanan ku,kalian lah menjadi penyemangat yang menyelipka Tuhan sebagai tangan pertolongan.

Malam kala aku pulang,dan tak akan pergi lagi.

Keryn,
Untuk cinta terbesar ku…
“MEREKA”

(via beaftric)

"Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi
dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih,
dan kau panen dengan penuh rasa terimakasih.
Dan dia pulalah naungan dan penghangatmu,
karena engkau menghampirinya saat lapar
dan saat tubuh butuh kedamaian.
Apabila dia bicara mengungkapkan pikirannya,
engkau tiada takut membisikkan kata ‘tidak’ di kalbumu sendiri,
kau juga tiada menyembunyikan kata ‘ya’.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan
kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, dalam jangkauan misterinya,
bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan,
Hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tau musim surutmu,
biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.”
(Sang Nabi - Gibran)

Batas Masa

Sore ini, aku bertemu seorang wanita. Lupa, sudah berapa kali kami bertemu. Sudut kota menjadi saksi tawa, saat kami bercengkrama saat itu. Angin sore menjamah kami dengan mesra, seraya lantunan musik mengalir bersahaja. Sampailah kami di suatu titik, dimana otak beradu dengan hati.
“Kok kayaknya aku udah.. apa ya ini namanya.. waktu kau udah merasa cukup dengan semua konflik yang ngga berarah dan memuak-“
“Batas masa, git” Potongnya.
“Bukannya capek, ya?” Tanyaku.
“Capek itu waktu kau udah terpaksa berhenti melakukan sesuatu” jelasnya.
“Batas masa emang gimana? Aku bertanya lagi.
“Ya gitu. Waktu kau udah merasa cukup dengan sesuatu yang harusnya nggak perlu kau laukukan lagi.” Jawabnya dengan asap mengepul dari bibirnya.
Hening. Aku melihat wanita itu sekali lagi. Mencerna kata demi kata yang baru saja ia ucapkan. Sedikit saja, tapi kenapa.. kenapa wanita ini begitu…

Andai saja dia tahu, sukmanya begitu indah.